Mungkinkah pendidikan moral dan etika sejak dini? Ya, tentu sangat mungkin. Tetapi tentu  tidaklah ”seberat” judul di atas dan diberikan melalui kegiatan anak sehari-hari. Pasti kita semua paham bahwa setiap kegiatan sejak bangun pagi sampai tidur malam,  sebetulnya merupakan bagian dari proses pendidikan yang dialami anak. Termasuk di dalamnya adalah pengenalan moral dan etika. Proses pembiasaan pada anak  tergantung dari contoh-contoh  yang dicerap dalam kesehariannya. Karena itu, penting disadari bahwa sebaik-baiknya suatu pengajaran, contoh-contoh lingkungan terdekat merupakan bagian terpenting terutama bagi anak usia dini.

Terima kasih, Maaf dan Tolong

 Salah satu inti pendidikan moral dan etika adalah penghargaan terhadap sesama. Pembiasaan pada anak sejak dini untuk mengucapkan terima kasih, maaf dan tolong merupakan bagian penting dari penanaman penghargaan pada sesama. Tiga kata yang sederhana ini merupakan dasar dari kegiatan bersosialisasi anak kelak. Anak diajarkan untuk mengetahui kapan harus minta maaf, mengucapkan terima kasih dan meminta tolong. Cara pengucapan dengan nada baik menjadi salah satu bagian pembiasaan ini.  Sangat sulit mengharapkan anak terbiasa mengucapkan tiga kata di atas itu bila orang-orang dewasa di sekitarnya jarang berterima kasih, tidak mengucapkan kata ”tolong” ketika meminta tolong pada orang lain, dan tidak meminta maaf saat melakukan kesalahan. Contoh menjadi lebih buruk ketika oarng dewasa memperlihatkan sikap memilih-milih dalam mengucapkan the three magic words itu.

Keterampilan Berkomunikasi

Penghargaan sesama juga bisa dilakukan melalui keterampilan anak dalam berkomunikasi. Anak belajar berbicara,  mendengarkan, bertanya dan juga menjawab. Berbicara bisa jadi lebih mudah dibanding mendengarkan. Karena itu penekanan secara khusus pada keterampilan mendengarkan merupakan hal penting dalam keterampilan berkomunikasi pada anak. Tetapi, sekali lagi, contoh di lingkungan bisa  memudahkan atau justru menyulitkan anak untuk melatih keterampilannya. Seringkali tanpa disadari orangtua memotong cerita anak atau memandang ke arah lain saat berbicara dengan anak. Padahal ketika hal itu  terjadi, pesan yang ditangkap anak adalah ia tidak sepenting hal lain yang saat itu dilihat oleh orangtuanya.

Berjabat Tangan

Kemampuan anak untuk berjabat tangan erat, menatap orang yang dijabat, menyebutkan nama dan memberikan senyumnya merupakan hal lain yang bisa diajarkan pada anak sejak dini. Sekaligus, sesungguhnya, mengembangkan kepercayaan dirinya. Tidak mudah bagi anak  untuk bisa melakukan hal tersebut sekaligus. Tetapi, bilamana penanaman kebiasaan ini dilakukan dengan konsisten, maka sejalan dengan pengikatan keterampilan berkomunikasinya, anak sudah meningkatkan kepercayaan dirinya.

Hal-hal di atas merupakan sebagian kecil saja  dari kegiatan sehari-hari yang bisa menanamkan penghargaan anak pada lingkungannya. Dari permainan yang dilakukannya dengan teman, anak belajar untuk mentaati peraturan dan menghargai kesempatan bermain yang dimilikinya. Anak juga belajar menghargai mainan dan bukunya ketika dibiasakan menyimpan pada tempatnya.

”Menghargai” merupakan kata kunci proses pembelajaran di atas. Berlaku bukan hanya pada anak, tetapi lebih pada orangtua. Seberapa jauh kita sudah menghargai semua detik yang masih kita miliki untuk menyiapkan anak menjadi manusia yang bisa menghargai lingkungannya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s